OASIS Headline Animator

Gede Prama ,Buat Osama dan Amerika

Buat Osama Dan Amerika
Penulis: GedePrama


Transcend 8 GB Class 6 SDHC Flash Memory Card TS8GSDHC6ETanpa upaya serius dan sengaja secara bersama-sama, kehidupan pasca runtuhnya WTC New York oleh perbuatan teroris 11 Sepetember 2001, serta pengeboman Afghanistan oleh Amerika setelah itu, bisa mengarah pada apa yang Samuel P. Huntington sebut dengan clash of civilization. Dan bila ini betul-betul terjadi, tidak ada pihak yang sebenarnya bisa dihitung sebagai pemenang.

Api kebencian dan kemarahan memang sedang menyala di kedua kubu. Menyala memanasi kebencian dan kemarahan masing-masing. Cuman bedanya dengan api sebenarnya yang juga menerangi penglihatan, api kemarahan malah sebaliknya. Ia membuat kedua kubu semakin gelap dalam penglihatan. Semakin ia dipuaskan dengan langkah-langkah penyerangan, semakin gelaplah pandangan dan wawasan masing-masing. Dan jika ini berlanjut, menyalalah bumi ini oleh api kemarahan tiada henti.

Osama dan Amerika (terutama pihak-pihak yang berada di balik pengeboman terhadap Afghanistan) keduanya memang pihak-pihak yang tidak diragukan kepintarannya. Bagaimana tidak disebut pintar kalau keduanya sama-sama didukung teknologi peperangan dan teknologi penyerangan yang sama-sama mengagumkan. Hanya saja, sebagaimana kepintaran lainnya, bila kepintaran berjalan sendiri tanpa bimbingan kebijakan misalnya, mudah sekali membuat pemilik kepintaran tadi tergelincir dalam lembah-lembah yang mencelakakan dirinya dan juga orang lain.

Tanpa bermaksud menambahkan kepintaran lain, atau tidak juga untuk mengganti kepintaran mereka dengan mahluk lain yang bernama kebijakan misalnya, izinkan saya sebagai salah satu penghuni bumi ikut bernyanyi. Kalau Osama dan Amerika bernyanyi dengan mesin-mesin perangnya, izinkan saya bernyanyi dengan mesin yang lain.

Entah di mana saya pernah membacanya, konon lembaga WHO pernah sampai pada kesimpulan bahwa manusia sebenarnya bisa hidup sampai dengan umur seratus empat puluh tahun. Kalau keseratus empat puluh tahun ini semuanya diisi dengan keindahan cinta dan kasih sayang, betapa indahnya nyanyian-nyanyian manusia di bumi ini. Namun sebagaimana kita tahu semua, jarang sekali dan bahkan belum pernah terdengar manusia yang bisa hidup sampai batas yang disebut WHO tadi.

Sahabat-sahabat dari dunia medis ada yang menyebut faktor-faktor seperti udara, air dan makanan yang membuat umur kita jadi pendek. Dan mungkin ini ada benarnya. Izinkan saya menambahkan faktor non medis lain : kemarahan dan kebencian. Ada sahabat yang pernah mengemukakan ?with hate and anger we are in the process of self destruction?. Dengan amarah dan kebencian kita menuju proses penghancuran diri yang meyakinkan.

Saya dan jutaan manusia lain memang sama-sama ngeri baik pada serangan senjata kubu Osama maupun kubu Amerika. Namun saya lebih ngeri lagi oleh eskalasi kebencian dan kemarahan yang ditimbulkan oleh nyanyian-nyanyian mesin senjata. Bayangkan kalau lebih dari lima ribu orang tua yang yang terkubur di WTC memiliki rata-rata dua orang anak, kemudian anak-anak terakhir memiliki masing-masing dua orang anak lagi. Demikian juga korban-korban pengeboman di Afghanistan yang sama-sama berpotensi dan berkemungkinan memiliki anak cucu. Bukankah nyanyian-nyanyian senjata yang mengerikan di hari ini, akan lebih mengerikan lagi di masa yang akan datang ?

Saya memang bukan seorang agamawan, bukan juga tokoh dari kegiatan spiritual tertentu. Namun sebagai warga biasa yang sadar bahwa melalui anak cuculah kehidupan kita berlanjut, sungguh di luar cita-cita saya sebagai manusia biasa kalau kita bersama sedang memproduksi masa depan melalui kebencian dan kemarahan. Untuk kemudian, tidak saja memperpendek umur manusia, melainkan juga mempersedikit terdengarnya nyanyian-nyanyian cinta dan kasih sayang. Serangkaian nyanyian dari mana kita dan anak cucu kita bisa menikmati kebahagiaan dan kedamaian.

Semua orang tahu, sebagian besar Anda yang di Amerika sana adalah anak-anaknya Kristus. Semua juga tahu kalau Osama lengkap dengan pendukungnya adalah anak-anak Mohammad. Baik Mohammad maupun Kristus, sebagaimana telah dicatat tanpa sedikitpun rasa ragu oleh tinta berlian sejarah, adalah tokoh-tokoh cinta dan kasih sayang. Keduanya telah memproduksi masa depannya melalui nyanyian-nyanyian cinta dan kasih sayang. Kalau saya dan orang biasa lainnya hanya memproduksinya lewat keteladan-keteladanan kecil, Kristus dan Mohammad mewariskan lebih dari sekadar keteladanan besar.

Saya memang jauh dari layak untuk menjadi penasehat baik bagi Amerika maupun Osama yang sudah penuh dengan kepintaran. Namun izinkan saya mengakhiri renungan kecil ini dengan mengutip salah satu pendapat indah yang dikutip penulis buku Zen Path to Harmony : ?we didn?t inherit the land from our fathers. We are borrowing it from our children?. Kita memang tidak mewarisi bumi ini dari orang tua kita, tetapi meminjamnya dari anak-anak kita. Pertanyaan titipan saya buat Osama dan Amerika, akankah kita mengembalikan bumi pinjaman kita dari anak-anak dalam bentuk bumi yang gelap oleh kemarahan dan kebencian ?

Apa yang menjadi cita-cita saya mirip dengan apa yang dicita-citakan Krishan Chopra (ayah kandung Deepak Chopra) dalam buku The Mystery and Magic of Love : ?when love rules our thought, deeds, and action we enter the valley of eternal joy for the soul?. Ya sebuah bumi yang mirip dengan lembah suka cita yang abadi, yang hanya mungkin dicapai melalui spirit cinta dan kasih sayang. Mudah-mudahan baik Osama maupun Amerika sama-sama diterangi cinta dan kasih sayang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Anda